Satu bab tambahan buat Homo Jakartensis

Tiada maksud untuk sok tahu melebihi bapak Seno Gumira Ajidarma yang saya kagumi sekaligus yang mementori saya selama ini di ihik3. Namun, bacaan Kentut Kosmopolitan dan pengalaman pribadi belakangan ini kompak melahirkan satu premis atau ide baru yang bisa kita diskusikan.

Ternyata, menyelesaikan satu-dua buku di kala kondisi sedang tidak fit atau sakit adalah berkah tersembunyi bagi para Homo Jakartensis – orang-orang yang mencari penghidupan di Jakarta.

Pertarungan di Jakarta kadang terlalu melelahkan (setidaknya itu yang sempat saya rasakan sebagai anak angkat baru ibu kota), sehingga untuk aktivitas membaca yang sering saya sisipkan menjadi aktivitas toilet reading pun bodi saya sering bilang, “No, you’ve done enough for today.”

Tapi karena aktivitas wajib saya belakangan adalah beristirahat dan satu-satunya istirahat yang aman untuk saya lakukan adalah membaca, momen ini jadi terasa “mewah” di tengah kemewahan Jakarta itu sendiri.

Jadi, apa sih yang paling berharga di Jakarta dan bagi para Homo Jakartensis?

Leave a comment