Oke juga nih saya pikir. Kementerian Kesehatan sudah mencoba memberikan solusi untuk memberikan obat-obatan kepada masyarakat yang tercatat positif covid, minimal di DKI Jakarta.
Jadi begitu hasil tes dari laboratorium yang terafiliasi dengan Kemenkes keluar, maka si pasien bisa mengajukan konsultasi dengan tenaga medis di aplikasi yang sudah terintegrasi.
Konsultasinya gratis, dengan memasukkan kode voucher tertentu. Tapi gratisnya itu dengan nominal, maksimal Rp10.000. Dan di aplikasi saya saat itu juga ada potongan diskon tambahan, entah karena apa.
Ternyata memilih dokter di aplikasi untuk diajak berkonsultasi butuh beberapa menit juga. “Apa kriterianya ya?” saya pikir, yang terbiasa mendatangi dokter karena memang itu faskes dari BPJS, terdekat dari rumah, atau karena sudah langganan dan cocok (loh, sakit kok langganan?).
Apakah kita pilih dokter yang tarif konsultasi per 30 menitnya paling mahal? Apakah kita memilih dokter dengan rating paling tinggi dari pasien? Apakah kita melihat durasi pengabdiannya (rata-rata yang muncul di aplikasi saya malam itu 1 tahun sampai 4 tahun)? Apakah kita melihat dari gendernya?
Apakah kita melihat dari namanya – masa cuma saya sih yang punya tendensi lucu-lucuan menganggap ada nama-nama tertentu yang paling cocok berprofesi sebagai dokter? Hehehe maaf kepada dokter-dokter seluruh Indonesia, ini pasien sakit masih saja cari masalah. Habisnya saya bingung juga karena disodori banyak banget nama-nama dokter di layar saya dalam keadaan sakit kepala, jadi kepikiran hal-hal tidak elok seperti ini. Mohon maaf, sekali lagi.
Intinya sekarang, saya bisa memilih dokter dengan indikator-indikator yang belum pernah saya ketahui sebelumnya.
Ngomong-ngomong, terima kasih untuk dr. Aliqa Citra Septiani yang sudah menolong saya dengan memberikan resep yang sesuai. Maaf saya kelupaan (atau tepatnya tidak tahu) cara memberi rating di aplikasi, dan, jujur, motivasi terkuat saya mengklik nama dokter waktu itu juga lebih dari kesesuaian tarif saja, ternyata.