“Move On”-in Selera Musikmu

Judulnya ribet bener, ya? Tapi saya mau cerita bahwa ada satu artikel yang masih nyender di browser saya dari TheAtlantic: apakah musik lama “membunuh” musik baru?

Soalnya, fenomenanya, orang sekarang lagi gandrung mendengarkan lagu-lagu lama, bahkan lagu dari dekade-dekade lampau seperti 70 dan 80-an. Padahal tiap hari, pasti ada saja kan ratusan bahkan mungkin lebih lagu baru yang dirilis oleh musisi (alias tiap warganet di dunia ini).

Apakah karena manusia pada umumnya tidak bisa move on? Penyebab dan eksplanasinya sebenarnya kompleks dan multidisiplin.

Yang saya baca sebelumnya, karena selera musik adalah bagian dari proses pencarian jati diri kita. Setelah menemukan “karakter” musik kita dan makin kompleksnya hidup, eksplorasi kita terhadap budaya populer juga melambat atau bahkan berhenti.

Penyebab lain, pandemi membuat kita tidak bisa menikmati akses hiburan terbaru. Tidak bisa menonton konser, artinya tidak ada pengalaman mengesankan baru.

Bisa juga dimasukkan dalam konteks konflik generasi, yang tua merasa musik sekarang, yang cuma bisa dibuat dengan tuts, telah kehilangan sentuhan “seninya”. Jadi “musik sampah” doang.

Masih banyak argumen lain sebenarnya kalau mau dicari-cari lagi, tapi mungkin saya tambahkan satu lagi. Teman saya di pascasarjana, mas Okky Pramudhita, menulis tesis tentang peran besarnya campur tangan label musik terbesar di dunia dalam membentuk selera musik kita. Seru banget kajian ekonomi-politiknya. Boleh banget kalau mau baca-baca.

Tapi paling masuk akal dan mudah dipercaya oleh kaum penyuka konten cinta-cintaan sih, ya karena kita susah move on dan selalu suka falling in love with people we can’t have.

Diolah dari topik “move on”, sumbangan pembaca anonim.

Leave a comment