Tumit kami berciuman — maksudku, sengaja aku tempelkan ke tumitnya agar menggoda buat awal kalimat ceritaku ini.
Sejak aku duduk di sampingnya dan melakukan gestur durjana tadi, ia tampak tak peduli. Sebuah buku tebal yang ia sanggah dengan kedua tangan sekaligus kedua pahanya telah menyedot semua fokusnya. Buku itu tampak seperti dementor yang telah insaf.
Kuintip sedikit lembaran kiri buku yang sedang terbuka itu. Oh, ini kan buku yang baru rilis dan sedang diperbincangkan di Twitter itu! Aku ingat betul karena beberapa warganet mencuitkannya di masa-masa suntuk Pilpres ini.
Btw, aku sudah terlalu tua untuk menyesuaikan penyebutan Twitter yang baru.
“Buku tentang dosa-dosa Si Anu, ya?” celetukku yang ironisnya tanpa dosa. Kupikir, kata-kata itu jauh tidak menarik daripada barisan kata dan potongan kliping di buku tersebut, jadi, ya, santai saja kalau tidak ditanggapi.
“Iya!” jawabnya tanpa kusangka.
Singkatnya, ia lantas bercerita kalau buku itu didapat beberapa hari lalu saat menghadiri acara temannya yang merupakan anggota LSM. Membawa pulang buku itu, tampaknya, bukan misi hidupnya. Namun faktanya, di sinilah buku itu sekarang.
“Ada agenda kemanusiaan lagi yang mau dihadiri Sabtu-Sabtu begini?” tanyaku meraba-raba pribadinya.
“Oh, enggak. Cuma mau ngajarin anak-anak.” Dari situ, ia mulai sedikit bercerita tentang komunitas sosial yang ia ikuti di pusat Jakarta. Tidak jauh beda dari tebakanku.
Sayang, cerita itu harus ia stop mendadak. Untungnya, bukan karena ia jijik dengan lelaki egois dan rendah jiwa sosialnya sepertiku.
Sambil memasukkan buku itu ke sebuah kresek hitam, ia permisi.
Kali ini, lutut kami yang berciuman — maksudku, tanpa sengaja ia melakukannya karena pemberhentiannya telah tiba.
Koridor 4