“Apa?” (33x)

“Jadi, saya harus menunggu 30 menit lagi, ya?”

“Apa?”

“30 menit lagi baru lewat?”

“Apa?”

“Pulogadung, 30 menit lagi?”

“Oh, iya!”

Keterlaluan! Aku sama sekali tidak mabuk dan aku yakin betul yang kuinjak sekarang ini bukan kelab malam. Namun, mengapa kata “Apa?” mampir ke kupingku sering sekali?

Beberapa detik sebelumnya, aku bertanya apakah TransJakarta koridor 2 baru saja lewat. Sebelum memberikan jawaban “Oh, baru saja!”, aku pun harus mendengar lebih dari satu “Apa?” dahulu.

“Mas bisa naik 2 polos atau 2A.” Ia masih berusaha menjelaskan dengan baik, walau kepalaku sudah mulai pusing karena bising.

“Loh, memangnya jalur yang belakangnya ada alfabetnya masih lewat pak jam segini?”

“Apa?”

“Jalur yang ada alfabetnya, kan gak 24 jam?”

“Oh iya memang, ini 2A yang terakhir, mas, dari Rawa Buaya.”

Aku ucapkan terima kasih. Sayang, susah sekali mulutku untuk tidak membuka pertanyaan tentang situasi yang sangat berpotensi membuat gendang telinga orang normal pensiun.

“Ini tiap malam Minggu, pak?”

“Apa?”

“Ini,” jelasku sembari memeragakan gestur menarik gas motor.

“Wah, tiap hari mas!”

“Gila!”

“Iya!”

Saat aku menunjukkan gestur pusing, pria itu sepertinya langsung menangkap. Jauh lebih mudah baginya daripada mendengar getaran-getaran kerongkongan saya.

“Lama-lama sudah biasa, kok, mas!”

“Gila!”

“Iya!” Jawabnya enteng saja tanpa mengenakan earmuff, ear plug, tudung telinga, kapas penyumpal, atau telunjuk dan telapak tangan Hokky Caraka yang beberapa kali dipakai untuk menutup kuping setelah mencetak gol.

Di titik ini, Jakarta di malam hari ternyata jauh lebih berisik daripada saat dinaungi matahari.

“Kemarin ada yang disetrum,” lanjutnya bercerita.

“Hah? Dari motor? Jatuh dong?”

“Apa?”

“Disetrum? Dari motor?”

“Iya, sama petugas. Tapi tetap saja besoknya ada lagi, ada lagi.”

Kepasrahan pria yang rambutnya mulai memutih itu sejalan dengan keputusasaanku berbicara normal tanpa mendengar “Apa?”. Aku rasa, gendang telinga petugas halte Balai Kota sudah mulai berevolusi, mirip Suku Bajo di Sulawesi yang limpanya sudah 50 persen lebih besar daripada kita-kita karena menyelam sejak kecil.

Tak usah kau mereaksikan “Apa?” setelah membaca paragraf asalku di atas. Sudah terlalu banyak “Apa?” bagiku hari ini.

Sekarang, beri aku peredam kuping karena suara knalpot brong dan “Apa” menghantuiku sepanjang jalan pulang!

Halte Balai Kota & Koridor 2

Leave a comment