Kuda-kuda bersedih

Walau saya tahu saya tetap akan bisa tersenyum karena tidak harus mengalami sakit-sakit kronis, ada secubitan — ukurannya sangat sangat sangat mini — rasa iri kepada laki-laki perokok.

Minim, mereka punya kuda-kuda kalau mau menerawang hal-hal yang sudah lewat atau yang ada di depan — yang belum tentu gawat.

Sebagai lelaki yang tidak merokok dan tidak terlalu bisa mengekspresikan perasaan, saya sangat jarang bersedih di kamar sendirian. Bawaannya ngantuk, bukan ingin nangis.

Akhirnya, pelariannya ya public space.

Mama sering mengingatkan cerita saya yang sesekali di akhir pekan meminta uang saku tambahan, lalu menggowes sepeda ke sebuah kafe dekat rumah. Sendirian saja menikmati es krim. Pulang saat sudah puas bengong dan berhenti melakukannya karena memicu radang tenggorokan.

Pas kuliah, andalan saya adalah rel Malang-Surabaya atau sebaliknya. Nikmat banget menyesali banyak hal ditemani Selepas Kau Pergi-nya La Luna. Tenang, meski di samping ada ibu gendong anak yang lagi menangis, bapak asongan berteriak “Anggur merah! Anggur merah, Setroberi, setrob!”, dan bau pesing dari toilet yang semriwing.

Makin dewasa, tak jauh beda: bangku kosong di pinggir jalan, kursi perpustakaan, sofa kafe. Tidak tahu ini lebih jago atau makin cupu. I’ll tell you later when I feel content.

Leave a comment