“Kemarin di sini ada tawuran. Satu meninggal.”
“Sepi banget hari ini!”
“Kaki saya masih sakit nih setelah sebulan libur narik. Jatuh. Nanti saya tunjukin di mana, kita lewatin kok.”
Tidak bisa menunggu Pak Fajri ini. Seperti jago yang berkokok tiap pagi tanpa diminta, begitu aku duduk di jok motornya, muncullah update-update macam itu dari mulutnya.
Kesal sedikit, karena kadang mulutnya bau rokok — plus aku lagi tidak bawa masker. Kadang, karena lagi tidak siap saja mendengar cerita orang.
Di satu sisi, senang karena ada orang yang merasa nyaman bercerita kepadaku.
Tapi kalau bisa, ya kurang-kurangilah tembakaunya.