Toko Buku Bekas, dengan Berita Baru

“Keren! Bagus-bagus di sini bukunya!” pujiku.

Aku tidak melirik wajahnya. Kendatipun ia tak mengumbar senyum, aku tahu di dalam hatinya ada confetti yang meletup-letup.

“Aku lupa pernah mampir ke sini atau belum. Mungkin pernah.”

Ya namanya aku, selalu ragu.

“Biasanya, aku ke toko paling ujung, pak. Yang dekat kafe tutup itu.”

“Oh.” Terlalu singkat jawaban pria itu. Tak apa, mungkin ia lelah sedari tadi sudah cerita soal masa mudanya sebagai aktivis dan karir yang ia korbankan di luar negeri demi kembali ke Tanah Airnya yang ia rasa bakal lebih baik setelah reformasi — spoiler alert: ternyata tidak.

“Bapak yang tua itu?” sambungnya.

“Iya.”

“Sering ke sana?”

“Ya, dua atau tiga kali lah. Tadi sebelum ke sini, aku mampir sana dulu sih sebenarnya. Tapi lagi tutup.”

“Ya, memang. Mau bagaimana lagi?”

“Kenapa, pak?”

“Empat bulanan lalu, bapak itu sudah meninggal.”

Leave a comment