Aku gak seberapa paham sih, persentase orang yang datang ke warung jamu pinggir jalan tapi gak minum di tempat itu berapa banyak.
Soalnya, aku pernah nih, mampir ke warung jamu pinggir jalan yang unik. Kebetulan, lagi kangen aja gitu rasanya jamu—kecuali yang pahit ya!!!
Ngomong-ngomong, sempat ada tuh waktu itu warung jamu dekat kosku. Eh belum sempat aku nyobain, sudah pindah duluan. Konfirmasinya datang langsung dari penjual warteg yang berjualan dekat warung jamu itu tiap pagi.
Pas malam-malam jalan sendirian dan ketemu warung jamu unik tadi, aku pun tertarik mampir.
“Buat pegel-pegel mba!”
Seorang perempuan muda yang baru berkontak mata denganku segera menjawil perempuan lain di sebelah. Akhirnya, “juru bicaranya” itu yang menjawabku.
“Maaf mas, air panasnya habis.”
“Lah?”
“Iya, ini pagar gang juga sudah dikunci.”
“Rumahnya di belakang sini?”
“Iya.”
“Oh, oke mba.”
“Maaf ya, mas.”
Terus kenapa gak ditutup warungnya, mba? Berapa persentase orang yang datang ke warung Anda buat beli jamu tapi gak diseduh di tempat?