Aku sudah mulai ada di titik percaya, kalau ada orang berantem karena beda persepsi, ya sudahlah. Negara saling perang gara-gara punya penerimaan yang berbeda atas kejadian yang sama, yo wis, mau gimana lagi?
Lebih ke mustahil gitu miliaran orang di bumi ini punya persepsi yang seragam.
Ini contoh simpelnya aja nih. Kemarin, aku ngobrol sama Rana soal cairan di shower tempat gym. Mana yang sabun, mana yang sampo.
Aku mendeskripsikan kedua cairan itu dengan “putih” dan “kuning” (in my defense, and she agreed, memang warnanya begitu).
Rana mempersepsikan, dua botol berbeda itu adalah “bening” dan “keruh” (in her defense, and I agreed, memang derajat kekeruhannya beda).
Tapi ternyata, kami gak merujuk ke botol yang sama dengan persepsi masing-masing.
Dan ya sudah, aku terima saja sampoan pakai sabun.