Inikah profesi multi-disiplin ilmu—kedokteran hewan dan ilmu komunikasi—yang tidak terlalu difavoritkan beberapa kampus dan akademisi di Indonesia itu?
Apakah animal communicator bisa berdialog dengan hewan buas dan liar?
Kalau tidak bisa, apakah ybs nanti akan beralasan macam: “Maaf, singa itu memakai bahasa bangsa kucing bangsawan yang sudah punah 100 tahun lalu?”
“Sorry, ilmu linguistik jerapah itu masih di atas saya.”
“Berang-berang itu hanya bisa dipahami oleh Nabi Sulaiman.”