Beberapa orang suka ngobrol, tapi gak semua suka di-physical touch-in—apalagi sama bapak-bapak.
Aku sedikit paham geliat batin mas-mas trendy yang turun di bus stop terdekat dari kafe 24 jam yang kayaknya baru sepi kalau Bumi kehantam meteor itu.
Di sisi lain, aku menangkap juga kalau si bapak itu belum terbukti melecehkan. Selain memuji masnya cakep, rambutnya bagus, tanya asli mana, dan sudah punya pacar belum, interaksi terakhirnya adalah bercandaan, “Anaknya sudah berapa?”
Setelah mas-mas tadi turun, ia mengklarifikasi kalau celetukannya tadi sengaja ia paradokskan untuk lelaki yang air wajahnya belum suntuk terhantam kehidupan. Untuk lelaki yang tampak lebih terbebani oleh cicilan dan tanggungan, ia mengklaim menggantinya jadi, “Cucunya sudah berapa?”—less jokey, but okay.
Karena aku tidak mendapat daftar pertanyaan serupa, maka akulah yang ambil kemudi. Beberapa bus stop berlalu, aku tahu bapak berpeci bulat dan berakik ini punya lapak yang disewakan di sebuah pasar, punya investasi tanah di Bekasi yang ia beli tahun 2005 sepulang haji seharga Rp50.000 per meter—katanya sekarang sudah sejutaan, berdarah Minang, juga tahu busuknya sistem sewa lapak di pasar yang dikelola BUMD—yang 11-12 ngeselinnya dengan developer apartemen itu.
Oh ya, hal terakhir yang kutahu tentang Pak Yandi, walau ia naik angkot sambil membawa tas karung yang tampak kumal, tangan kanannya ternyata halus dan lembut.