Sikap dalam Kata

Kerjaanku ngeduitin kata.

Aku belum lihai menjalankan afirmasi positif buat diri sendiri maupun menggunakan kata yang sanggup merangkul emosi dan psikis orang lain. Caraku memperlakukan kata, seperti aspek-aspek hidup pada umumnya, tersimplifikasi saja: kerja.

Tapi ada momen-momen aku mau lebih aware dalam berkata-kata. Yang terbaru, soal prinsip Anies Baswedan yang enggan pakai kata Sumber Daya Manusia karena kita, manusia, jadinya tereduksi sebagai resource belaka.

Bisa habis. Mudah tergantikan. Jauh dari tanggung jawab negara dan pelayan rakyat.

Kata lain yang juga cukup menyentuh adalah terjemahan policy dalam bahasa Indonesia: kebijakan.

Kenapa kerjaan dan rutinitas pelayan rakyat jadi lekat dengan kebajikan dan kebijaksanaan buat tuannya? Alhasil, kita jadi kurang berdaya, rentan berharap sama momongan mereka yang kita amanatkan kepercayaan kita sendiri.

Bahasa itu politis dan “kata” bukan semata kata benda; ia juga bisa bersifat lagi bertindak.

Leave a comment