Nasi pertamaku hari ini, pukul 22.00, fast food.
Nasi pertamanya hari ini, besok, dan masih perlu dijemput.
Nasi pertamaku hari ini, pukul 22.00, fast food.
Nasi pertamanya hari ini, besok, dan masih perlu dijemput.
Memang sekarang serba digital, tapi pun bagi beberapa orang kota untuk terus mencukupinya harus tersengal-sengal.
Di sebuah grup WA, ada yang cerita kalau saking gak mampunya ia beli kuota dulu, ia mencoba secara acak Wi-Fi hotspot yang HP-nya tangkap, lalu dengan pasrah memasukkan angka satu sampai delapan sebagai password.
Ada yang cerita kalau demi bisa internetan, harus numpang Wi-Fi kampus sampai malam.
Saya mirip-mirip tuh. Pernah ada masanya, listrik dan Wi-Fi di kampus saya tidak dibiarkan 24 jam menyala. Tujuannya ya apa lagi kalau bukan mengusir mahasiswa kalong—bukan lagi kupu-kupu, kata kenalan di grup WA itu.
Oh ya, saya juga pernah menemukan celah. Jadi, aplikasi pemutar lagu di HP saya, kalau di-set on repeat sebelum koneksinya internetnya hilang, ia tetap bisa terputar.
Ada masanya, saya mutar satu lagu, on repeat, sampai sekitar 40 menit, sisaan cache dari Wi-Fi di kampus, untuk menemani pulang ke rumah.
Sambil menunggu kopiku selesai dibuatkan oleh petugas di sebuah minimarket, aku melihat salah satu dari mereka, yang masih trainee, menyapu sebuah koridor.
Sambil diawasi oleh supervisor-nya, trainee ini mencoba mendorong alat yang bagian penyapunya berbentuk pipih itu.
Eh, gak mulus.
Pertama, jarak kaki dan sapunya kejauhan, sehingga sapunya tak mau bergerak.
Kedua, ketika sudah bisa bergerak—tersendat-sendat—ia kesusahan karena sapunya menabrak kaki rak.
Nikita Willy pernah diberitakan tidak bisa menyapu. Nagita Slavina sama. Karyawan baru di minimarket itu pun juga.
Ya sudah, mau bagaimana?
Bukan mencari topiknya. Itu sih bisa dicari-cari.
Lebih ke: mengakhiri hubungan ini dengan salaman atau cukup melambaikan tangan ya?
Oke, kalau dia mau salaman, mending salaman biasa apa fist bump ya?
Susah.
Aku sudah mulai ada di titik percaya, kalau ada orang berantem karena beda persepsi, ya sudahlah. Negara saling perang gara-gara punya penerimaan yang berbeda atas kejadian yang sama, yo wis, mau gimana lagi?
Lebih ke mustahil gitu miliaran orang di bumi ini punya persepsi yang seragam.
Ini contoh simpelnya aja nih. Kemarin, aku ngobrol sama Rana soal cairan di shower tempat gym. Mana yang sabun, mana yang sampo.
Aku mendeskripsikan kedua cairan itu dengan “putih” dan “kuning” (in my defense, and she agreed, memang warnanya begitu).
Rana mempersepsikan, dua botol berbeda itu adalah “bening” dan “keruh” (in her defense, and I agreed, memang derajat kekeruhannya beda).
Tapi ternyata, kami gak merujuk ke botol yang sama dengan persepsi masing-masing.
Dan ya sudah, aku terima saja sampoan pakai sabun.
Susah banget jadi penulis.
Mau cari bahan dengan nongkrong malam-malam di pinggir jembatan, bersama penjual kopi saset yang menyediakan mic dan speaker biar pengunjungnya bisa karaoke saja males.
Berisik.
Mana yang nyanyi suaranya gak enak.
Ya sudah babai dulu, kata Abe Cekut.
Aku gak seberapa paham sih, persentase orang yang datang ke warung jamu pinggir jalan tapi gak minum di tempat itu berapa banyak.
Soalnya, aku pernah nih, mampir ke warung jamu pinggir jalan yang unik. Kebetulan, lagi kangen aja gitu rasanya jamu—kecuali yang pahit ya!!!
Ngomong-ngomong, sempat ada tuh waktu itu warung jamu dekat kosku. Eh belum sempat aku nyobain, sudah pindah duluan. Konfirmasinya datang langsung dari penjual warteg yang berjualan dekat warung jamu itu tiap pagi.
Pas malam-malam jalan sendirian dan ketemu warung jamu unik tadi, aku pun tertarik mampir.
“Buat pegel-pegel mba!”
Seorang perempuan muda yang baru berkontak mata denganku segera menjawil perempuan lain di sebelah. Akhirnya, “juru bicaranya” itu yang menjawabku.
“Maaf mas, air panasnya habis.”
“Lah?”
“Iya, ini pagar gang juga sudah dikunci.”
“Rumahnya di belakang sini?”
“Iya.”
“Oh, oke mba.”
“Maaf ya, mas.”
Terus kenapa gak ditutup warungnya, mba? Berapa persentase orang yang datang ke warung Anda buat beli jamu tapi gak diseduh di tempat?
Karena masih memaksa tubuh bergerak di jalanan pukul 1 pagi, aku ingin pulang dengan penebus dosa. Sembari menunggu ojolku datang, aku membungkus jahe merah. Tanpa SKM, tanpa gula. Walau sudah diperingatkan bapak penjualnya bakal pahit banget, aku tidak peduli. Ini minuman penebus dosaku.
“Wah, pas banget, mau ke arah mas nih saya!” sambut ojolku yang baru tiba.
“Oh ya? Mau nongkrong?” asumsiku begitu, maklum, lagi malam minggu.
“Iya mas, mau main biliar.”
Aku familiar dengan tempat yang pebiliar part-time itu sebut. Memang tidak jauh dari titik tujuanku.
Sembari di jalan, ia bercerita. Ternyata, driver bisa request ke platform ojol untuk mengambil order dengan arah tujuan yang ia inginkan. Kalau level akunnya masih basic, sehari cuma bisa satu kali request. Selebihnya, bisa dua.
“Makanya agak lama ya tadi masnya nunggu saya?”
Iya sih, selisih tujuh menit dari rumahnya ke titik jemputku. Makanya, aku pun masih sempat pesan jahe merah.
Btw, selisih ia mengatur arah perjalanannya dengan masuknya order-ku adalah sekitar lima menitan.
Setelah tuntas mengarahkan jalan, aku sih sudah kebayang ya untuk segera menyeduh jahe merah ini. Begitu mau sampai, driver ojol itu bertanya sekali lagi, “Mas?”
“Iya?”
“Dekat sini beli minuman di mana ya?”
“Keren! Bagus-bagus di sini bukunya!” pujiku.
Aku tidak melirik wajahnya. Kendatipun ia tak mengumbar senyum, aku tahu di dalam hatinya ada confetti yang meletup-letup.
“Aku lupa pernah mampir ke sini atau belum. Mungkin pernah.”
Ya namanya aku, selalu ragu.
“Biasanya, aku ke toko paling ujung, pak. Yang dekat kafe tutup itu.”
“Oh.” Terlalu singkat jawaban pria itu. Tak apa, mungkin ia lelah sedari tadi sudah cerita soal masa mudanya sebagai aktivis dan karir yang ia korbankan di luar negeri demi kembali ke Tanah Airnya yang ia rasa bakal lebih baik setelah reformasi — spoiler alert: ternyata tidak.
“Bapak yang tua itu?” sambungnya.
“Iya.”
“Sering ke sana?”
“Ya, dua atau tiga kali lah. Tadi sebelum ke sini, aku mampir sana dulu sih sebenarnya. Tapi lagi tutup.”
“Ya, memang. Mau bagaimana lagi?”
“Kenapa, pak?”
“Empat bulanan lalu, bapak itu sudah meninggal.”
“Kemarin di sini ada tawuran. Satu meninggal.”
“Sepi banget hari ini!”
“Kaki saya masih sakit nih setelah sebulan libur narik. Jatuh. Nanti saya tunjukin di mana, kita lewatin kok.”
Tidak bisa menunggu Pak Fajri ini. Seperti jago yang berkokok tiap pagi tanpa diminta, begitu aku duduk di jok motornya, muncullah update-update macam itu dari mulutnya.
Kesal sedikit, karena kadang mulutnya bau rokok — plus aku lagi tidak bawa masker. Kadang, karena lagi tidak siap saja mendengar cerita orang.
Di satu sisi, senang karena ada orang yang merasa nyaman bercerita kepadaku.
Tapi kalau bisa, ya kurang-kurangilah tembakaunya.